admin01

Ibnu Atha’illah al-Iskandari: Beragamnya Bentuk Ketaatan agar Tidak Membosankan

Ibnu Atha’illah al-Iskandari menulis dalam salah satu bait al-Hikam: “Karena Allah mengetahui bahwa engkau mudah jemu, Dia membuat bermacam-macam cara taat untukmu. Karena Allah mengetahui bahwa engkau rakus, Dia membatasi ketaatan itu hanya pada waktu-waktu tertentu. Agar perhatianmu tertuju pada kesempurnaan shalat, bukan pada adanya shalat. Karena tidak semua orang yang shalat dapat menyempurnakan shalatnya.”

ALLAH MENGETAHUI bahwa kau mudah bosan dan jemu. Beratnya amal akan mengakibatkanmu meninggalkan amal itu. Oleh karena itu, Dia membuat untukmu bermacam cara dan bentuk ketaatan. Itu adalah rahmat dan kemudahan-Nya untukmu.

Ibnu Atha’illah al-Iskandari: Beragamnya Bentuk Ketaatan agar Tidak Membosankan Read More »

Ibnu Atha’illah al-Iskandari: Salah Satu Penyebab Utama Kehinaan Diri adalah Ketamakan

Ibnu Atha’illah al-Iskandari menulis dalam salah satu bait al-Hikam: “Tidaklah tumbuh dahan-dahan kehinaan, kecuali dari benih ketamakan”.

Ibnu Atha’illah mengumpamakan kehinaan dengan sebuah pohon. Dahan-dahannya adalah perumpamaan bagi berbagai jenis kehinaan. Ia juga mengumpamakan ketamakan dengan sebuah benih. Seakan Ibnu Atha’illah berkata, “Jangan kau tanam benih ketamakan di hatimu sehingga akan tumbuh menjadi pohon kehinaan yang dahan dan rantingnya akan bercabang-cabang.”


Ketamakan merupakan sikap tercela yang dapat merusak ‘ubudiyah. Bahkan, ia adalah pangkal segala kesedihan. Ketamakan menandakan ketergantungan dan penghambaan manusia terhadap manusia. Di sinilah letak kehinaan dan kenistaan sikap ketamakan. Sebabnya adalah keraguan terhadap sesuatu yang telah ditakdirkan Allah.

Oleh karena itu, ia kemudian berkata, “Jikaketamakan ditanya, ‘Siapa bapakmu?’ niscaya ia akan menjawab, ‘Keraguan terhadap takdir.’ Jika ditanya, ‘Apa pekerjaanmu?’ ia menjawab, ‘Mencari kehinaan.’ Jika ditanya, ‘Apa tujuanmu?’ ia menjawab, ‘Memisahkan seseorang.’”

Ketamakan juga dapat merusak agama. Ketika Ali bin Abi Thalib mendapati para penutur kisah tengah bercerita banyak hal di Masjid Agung Bashrah, ia menyuruh mereka berdiri. Kemudian, ia mendatangi Hasan al-Basri (30-110 H) dan berkata, “Hai anak muda, aku akan menanyakan kepadamu satu hal. Jika kau mampu menjawabnya dengan tepat, kubiarkan kau di sini. Namun, jika kau salah, aku akan berdirikan kau seperti teman-temanmu itu.”

Ali memandang Hasan al-Basri. Dilihatnya pada diri pemuda tersebut tersimpan tanda petunjuk dan kecerdasan.

Hasan al-Basri pun menjawab, #Tanyalah semaumu!”

“Apa gerangan yang menjadi pengendali agama?” Tanya Ali kepadanya.

Hasan menjawab, “Sifat wara’.”

Ali bertanya lagi, “Apa yang menjadi perusak agama?”

Hasan menjawab, “Sifat tamak.”

Kemudian, Ali berkata, “Duduklah! Orang sepertimu layak berbicara di hadapan manusia. Wara’ (menjauhi) ketamakan adalah wara’-nya orang-orang khusus (khawwash). Sikap ini menunjukkan kokohnya keyakinan, sempurnanya tawakl, dan tenangnya hati terhadap Allah. Berbeda dengan wara’-nya orang-orang biasa (awam) yang baru sebatas meninggalkan perkara-perkara syubhat.”

Ibnu Atha’illah al-Iskandari menulis dalam salah satu bait al-Hikam: “Tak ada yang dapat mengendalikanmu sehebat angan-angan.”

Angan-angan adalah sesuatu yang teramat buruk. Selain karena merupakan penyebab ketamakan manusia, juga karena angan-angan sebenarnya adalah perkara yang tidak ada. Ia hanyalah khayalan dan perkiraan. Namun anehnya, jiwa selalu lebih tunduk kepadanya daripada akal.

Tidakkah kau melihat bahwa tabiat manusia selalu merasa takut kepada ular karena ia menyangka bahwa ular itu berbahaya. Bahkan, ia takut bila melihat seutas tali yang melingkar sebab ia mirip dengan ular. Sekiranya tabiat tunduk kepada akal, tentu ia tidak akan merasa takut karena segala hal yang ditakdirkan pasti akan terjadi dan yang tidak ditakdirkan pasti tidak akan terjadi.

Oleh sebab itu, tak seorang pun yang selamat dari ketamakan terhadap makhluk dan apa yang ada di tangan mereka, kecuali para ahli wara’ dari kalangan khawwash. Mereka adalah orang-orang yang selalu qana’ah dan tawakal. Di hati mereka tiada lagi hubungan antarmakhluk. Mereka tidak lagi memedulikan rezeki.

Sumber Gambar: Pinterest/Callighraphy Print

Ibnu Atha’illah al-Iskandari: Salah Satu Penyebab Utama Kehinaan Diri adalah Ketamakan Read More »

5 Macam Riya Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani

Menurut Syekh Nawawi al-Bantani, riya adalah salah satu penyakit hati dan merupakan bentuk dari syirik kecil atau tersembunyi. Riya adalah mencari simpati orang lain dengan menonjolkan sifat-sifat baik guna memperoleh kedudukan dan wibawa di mata manusia.

“Andaikata manusia bersikap adil,” kata Syekh Nawawi al-Bantani, “Niscaya mereka mengetahui bahwa sebagian besar ilmu dan ibadah yang mereka kerjakan adalah disebabkan oleh riya, padahal riya itu menghapuskan pahala.”

Lebih jauh lagi, Syekh Nawawi al-Bantani menerangkan bahwa riya itu terbagi menjadi lima macam, yaitu:

1. Riya dalam masalah agama dengan menampakkan anggota badan.

Contoh dari jenis riya yang pertama ini adalah menampakkan tubuh yang kurus dan pucat serta membiarkan rambut acak-acakan. Dengan tubuh yang kurus ia ingin menunjukkan sedikit makan, dan dengan wajah yang pucat ia ingin menunjukkan kurang tidur pada waktu malam dan sangat perihatin dengan urusan agama.

2. Riya dengan penampilan dan pakaian.

Riya dalam hal ini adalah menundukkan kepala ketika berjalan, bersikap tenang dalam bergerak, menampakkan bekas sujud pada jidatnya, mengenakan pakaian yang kasar dan tidak membersihkannya, serta membiarkan baju robek dan memakai pakaian yang bertambal.

3. Riya dengan perkataan.

Apa yang dimaksud dalam hal ini adalah mengucapkan kata-kata bijak dan memggerakkan bibir saat berzikir di hadapan orang banyak, menyuruh berbuat baik dan mencegah perbuatan mungkar di hadapan khalayak.

Termasuk dalam kategori ini adalah menampakkan amarah atas perbuatan maksiat, menampakkan penyesalan karena orang lain berbuat dosa, melemahkan suara ketika berbicara, dan melunakkan suara ketika membaca al-quran untuk menunjukkan rasa takut dan sedih.

4. Riya dengan Perbuatan

Perbuatan yang termasuk dalam kategori riya adalah menampakkan kekhusyukan ketika shalat, berlama-lama saat berdiri, sujud, dan rukuk; tidak menoleh ke kiri dan ke kanan, serta meluruskan kedua telapak kaki dan tangan.

Begitu juga riya ketika berpuasa, haji, dan pada saat mengeluarkan zakat, infak, maupun sedekah.

5. Bersikap Riya kepada Teman, Para Tamu, dan Manusia Pada Umumnya.

Sikap-sikap yang termasuk dalam kategori yang terakhir ini adalah, seperti: orang yang banyak didatangi tamu dari kalangan ulama, ahli ibadah, para penguasa, maupun pejabat supaya dikatakan bahwa mereka mengambil berkah darinya karena kemuliaan derajat agamanya. Atau seperti orang yang sering menyebut nama para ulama atau guru agar dikatakan banyak memiliki guru dan banyak belajar dari mereka.

Allahu A’lam.

Sumber Gambar: Pinterest/Marianne S

5 Macam Riya Menurut Syekh Nawawi Al-Bantani Read More »

Makna dari Asma Allah Ar-Rahim Menurut Maulana Ibnu Arabi

Menurut Maulana Ibnu Arabi, Sejatinya nama-nama Allah swt. terdiri atas dua bagian. Yang pertama, nama-nama yang diajarkan oleh Allah swt. kepada kita. Yang kedua, nama-nama yang pengetahuan tentangnya dimonopoli oleh Allah swt. sendiri dalam pengetahuan gaib-Nya. Nama-nama Allah swt. yang hanya diketahui oleh Allah swt. ini disembunyikan entitasnya, namun ditampakkan hukum-hukumnya melalui manifestasi-manifestasi Ilahi (tajalliyat).

Dalam menghadapi manifestasi Ilahi, manusia terbagi menjadi dua golongan. Pertama, orang-orang yang mengetahui bahwa manifestasi tersebut merupakan manifestasi nama-nama Ilahi. Kedua, orang-orang yang tidak mengetahui hal itu. Pada nama-nama Ilahi ini, setiap hamba memiliki tiga keterkaitan, yakni keterikatan kebutuhan (at-ta’alluq), hakikat makna (at-tahaqquq), dan etika praktis (at-takhalluq).

Makna dari at-ta’alluq adalah kebutuhan seorang hamba pada nama-nama Ilahi itu secara absolut, di mana nama-nama itu mengacu pada dzat Ilahi. Sedangkan yang dimaksud dengan at-tahaqquq adalah pengetahuan tentang makna nama-nama itu yang sesuai dengan Allah swt. dan yang sesuai dengan hamba. Adapun arti at-takhalluq adalah penisbatan nama-nama itu pada seorang hamba sesuai dengan kapasitas dirinya, dan penisbatan nama-nama itu pada diri Allah swt., sesuai dengan keagungan Allah swt.

 Di dalam buku Kasyf al-Ma’na ‘an Sirri Asma Allah al-Husna, Ibnu Arabi menjabarkan makna setiap Asmaul Husna berdasarkan pada tiga keterkaitan seorang hamba pada manifestasi-manifestasi nama-nama Ilahi di atas. Adapun makna dari Asma Allah Ar-Rahim (Yang Maha Penyayang) menurut Ibnu Arabi yang ditinjau dari segi at-at’alluq, at-tahaqquq, dan at-takhalluq adalah sebagai berikut:

At-Ta’alluq

Makna Ar-Rahim dalam keterkaitan kebutuhan seorang hamba kepada Allah swt. adalah bahwa sejatinya seorang hamba itu sangat membutuhkan Allah Yang Maha Penyayang untuk mendapatkan kasih sayang khusus berupa kebahagiaan abadi.

At-Tahaqquq

Sedangkan secara hakikat maknawinya, makna Ar-Rahim adalah untuk mengada, seorang individu memerlukan cobaan dan kesehatan. Dihapusnya dendam tidak lebih utama ketimbang dihapusnya nikmat, sehingga seorang hamba akan paham pentingnya nikmat, kesehatan, dan cobaan.

Nama Yang Maha Penyayang berhubungan dengan semua kebaikan yang tidak ada bahaya dalamnya dan juga dengan segala bahaya yang ada di dalam kebaikan.

At-Takhalluq

Adapun cara untuk menyesuaikan perangai diri dengan nama Yang Maha Penyayang adalah menyayangi semua hal yang diperintahkan oleh Allah swt. untuk disayangi.

Ketika Rasulullah saw. marah karena Allah, Rasululullah saw. tidak melakukan apa-apa untuk mengungkapkan kemarahannya itu. Dalam sebuah hadis sahih diungkapkan,

“Sesungguhnya Allah marah ketika hari kiamat” (Muttafaq ‘Alaih)

Hamba pun berada pada batasan itu.

Sumber Gambar: Pixels.com/Shah Nawaz

Makna dari Asma Allah Ar-Rahim Menurut Maulana Ibnu Arabi Read More »

Hikayat Sa’dun Si Gila yang Pingsan setelah Meneriaki Dzun Nun al-Mishri, Sufi Besar Mesir Abad ke-3 H

Dikisahkan bahwa pada suatu hari Dzun Nun bertemu dengan Sa’dun si gila di pekuburan. Dalam pertemuan itu, tiba-tiba Sa’dun si gila jatuh pingsan setelah meneriaki Dzun Nun al-Mishri, Sufi Besar Mesir abad ke-3 H.

Dzun Nun al-Mishri keluar menuju kuburan Abdullah ibn Malik. Di sana dia melihat seseorang yang bila melihat makam yang amblas, dia berhenti. Dzun Nun mendekati orang itu. Ternyata dia Sa’dun.

Untuk memastikan Dzun Nun bertanya, “Apakah anda Sa’dun?”

Orang itu menjawab, “Ya. Saya Sa’dun.”

Dzun Nun bertanya, “Apa yang anda lakukan di sini?”

Sa’dun menjawab, “Orang yang menanyakan apa yang saya lakukan adalah orang yang mengingkari apa yang saya lakukan. Jika orang tersebut mengetahui apa yang saya lakukan, apa gunanya dia bertanya?”

Dzun Nun berkata, “Sa’dun! Mari kita menangisi badan ini sebelum ia hancur.”

Kemudian Sa’dun menangis dan berkata, “Menangisi saat kedatangan di hadapan Allah lebih utama daripada menangisi badan. Jika ada kebaikan pada badan, maka kebaikannya di hadapan Tuhannya lebih banyak daripada kehancurannya. Jika ada keburukan pada badan, maka keburukannya di hadapan Tuhannya lebih buruk daripada kehancurannya di kuburan. Andai saja tubuh ini ditinggalkan dalam kondisi hancur di kuburan tanpa dibangkitkan dan diperhitungkan!

Wahai Dzun Nun, jika engkau masuk neraka, maka tidak ada gunanya bagimu bila ada orang lain yang masuk surga. Jika engkau masuk surga tidak berbahaya pula bagimu bila orang lain masuk neraka.

Dzun Nun! Allah swt. berfirman,

“Dan apabila catatan-catatan (amal perbuatan manusia) dibuka,” (QS. at-Takwir {81}: 10)

kemudian Sa’dun berteriak. “Ya Allah! Apa yang akan aku temui di catatan amal perbuatanku kelak?”

seketika itu pula Sa’dun si gila pingsan. Saat dia sadar kembali, Sa’dun si gila mengusap wajah Dzun Nun al-Mishri dengan ujung bajunya sambil berkata,

“Dzun Nun, adakah orang yang lebih mulia darimu jika kau mati di tempat ini?”

Sumber Gambar: Pinterest/Sufi Quotes

Hikayat Sa’dun Si Gila yang Pingsan setelah Meneriaki Dzun Nun al-Mishri, Sufi Besar Mesir Abad ke-3 H Read More »

Cerita Masyarakat Bashrah Takjub Menyaksikan Karomah Si Gila Sa’dun

Sa’dun si gila merupakan seorang pria asal Bashrah. Ia bernama asli Abu Atha’ Said al-Majnun. Dalam kitab Shifat ash-Sahfwah, ia dianggap sebagai salah satu orang pintar yang gila di Baghdad dan memiliki banyak karomah.

Saat itu Bashrah dilanda kekeringan yang dahsyat. Sa’dun si Gila pun memukau masyarakat dengan salah satu karomah yang dimilikinya. Begini kisahnya seperti yang diceritakan oleh Malik ibn Dinar.

Malik ibn Dinar berkata, “Masyarakat Bashrah mengalami kekeringan dahsyat. Karena itu, kami melaksanakan Istisqa’, tapi langit justru makin cerah. Saya menemukan Sa’dun di salah satu reruntuhan bangunan. Kepadanya saya berkata, ‘Demi Dzat yang menciptakan anda. Mohonlah hujan kepada Allah untuk kita semua!’”

Sa’dun menengadahkan kepalanya menghadap langit dan berkata, “Wahai Pencipta ruh dan jiwa! Wahai Pembuat awan dan angin! Wahai Pengubah malam dan pagi! Demi apa yang terjadi saat ini, mohon sayangilah hamba-Mu dan negeri-Mu! Janganlah kau hancurkan negeri-Mu dengan dosa hamba-hamba-Mu.”

Malik berkata, “Sebelum kata-kata Sa’dun selesai, langit menggugurkan airnya. Hujan deras mengguyur. Sa’dun keluar untuk mengambil air sambil bersyair:

Katakanlah pada duniaku, “menjauh dan berpalinglah dariku!

Jika engkau melihatku, maka aku tidak melihatmu.

Dekatilah, milikilah cinta selainku

Aku telah terlena pada cinta yang lain dari mu

Jika engkau menawan suatu kaum karena dosa,

Maka pergilah, karena aku bukan tawananmu.

Cukuplah bagiku pengetahuan akan Tuhanku

Itu saja yang ingin kukatakan, dan tak usah kau mengatakan apa-apa

Sumber Gambar: Pinterest/Osama Sarm

Cerita Masyarakat Bashrah Takjub Menyaksikan Karomah Si Gila Sa’dun Read More »

Kisah Mengharukan Bilal bin Rabah yang Menangis di Sisi Makam Rasulullah SAW

Ketika Rasulullah saw. wafat, dan sebelum jenazah beliau dimakamkan, Bilal mengumandangkan azan. Tatkala mengucapkan kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah, orang-rang di dalam masjid pun meratap bersama-sama.

Kemudian, setelah jenazah Rasulullah saw. dimakamkan, Abu Bakar berkata kepada Bilal, “Kumandangkanlah azan, wahai Bilal!” maka Bilal menyahut, “Jika engkau memerdekakanku agar aku bersamamu, maka itulah jalannya. Dan, jika engkau memerdekakanku karena Allah, biarlah aku bersama orang yang membebaskanku karena Allah!”

Abu Bakar menjawab, “Aku tidaklah memerdekakanmu, melainkan karena Allah.”

Bilal menyahut lagi, “kalau begitu, aku tak akan pernah mengumandangkan azan lagi setelah Rasulullah tiada.”

Lalu Abu Bakar berkata, “Semua itu terserah kepadamu.”

Bilal pun bangkit hingga keluarlah sejumlah delegasi Syam. Bilal beranjak bersama mereka hingga ke Syam.

Setelah itu, Bilal menetap di Syam beberapa waktu. Tak lama kemudian, ia bermimpi bertemu Rasulullah dan beliau bertanya, “Kenapa engkau jauh, wahai Bilal? Belum tibakah saatnya engkau mengunjungi kami?”

Bilal pun terbangun dengan hati yang sedih. Ia segera meluncur menuju Madinah. Setiba di sana, ia segera menuju makam Rasulullah dan menangis di sisi makam beliau.

Tak lama kemudian, datanglah Hasan dan Husen. Bilal segera memeluk dan merangkul mereka berdua. Hasan dan Husen berkata kepada Bilal, “Kami sangat ingin engkau mengumandangkan azan saat subuh nanti.” Dengan permohonan itu, Bilal segera naik ke atas menara masjid (dan mengumandangkan azan).

Baca Buku : The Power of Adzan

Ketika mengucapkan kalimat “Allahu Akbar,” kota Madinah pun terguncang. Dan, semakin terguncang tatkala Bilal mengucapkan kalimat “Asyhadu an la ilaha Allah,”. Lalu, ketika sampai pada kalimat “Asyhadu anna Muhammadan Rasulullah,” keluar-lah para perempuan dari rumah-rumah mereka.

Sehingga tidak pernah ada hari yang lebih banyak menyaksikan perempuan maupun laki-laki yang menangis dibanding hari itu.

Sumber Gambar: Pinterest/Sami Gharbi from Tunisia

Kisah Mengharukan Bilal bin Rabah yang Menangis di Sisi Makam Rasulullah SAW Read More »